Diversifikasi Aset melalui P2P Lending: Berinvestasi pada Pertumbuhan Pesat UKM Indonesia

Indonesia merupakan negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, namun memiliki tingkat literasi keuangan yang masih rendah. Hanya 32 persen dari jumlah penduduk dewasa di Indonesia yang melek finansial. Angka ini jauh di bawah capaian negara tetangga kita, seperti Myanmar, dimana 52 persen dari penduduknya sudah melek finansial, bahkan dari negara-negara di Afrika, seperti Zimbabwe atau Uganda (Kompas, 2017).

Pertumbuhan investasi secara makro pun diperkirakan baru mencapai sebesar 4-6% per tahun. Dengan rendahnya literasi keuangan tersebut peluang para calon investor “tertipu” pun semakin tinggi sehingga, pengetahuan yang lebih mendalam untuk produk-produk investasi semakin dibutuhkan.

Adapun produk investasi yang diketahui oleh mayoritas masyarakat Indonesia saat ini yaitu berupa tabungan, deposito, emas, properti, obligasi, saham maupun reksadana. Dari setiap produk investasi tersebut terdapat resiko dan imbal hasil yang berbeda maka diversifikasi aset merupakan hal penting.

Konsep diversifikasi ini sejalan dengan pepatah “Jangan menaruh semua telur di satu keranjang”. Ketika industri tertentu mengalami pasang-surut dan berimplikasi pada investasi Anda maka masih terdapat investasi lain yang dapat terus berjalan memberikan keuntungan secara normal. Diversifikasi ini tidak hanya dapat dilakukan pada investasi-investasi umum yang telah disebutkan sebelumnya. Namun, juga dapat dilakukan pada jenis investasi alternatif lain seperti investasi dalam bentuk Peer to Peer (P2P) Lending.

P2P Lending atau Layanan Pinjam Meminjam berbasis teknologi informasi merupakan pasar online untuk mempertemukan perusahaan yang membutuhkan modal kerja dengan para Pemberi Pinjaman (Lender). Investasi di P2P Lending menawarkan berbagai kemudahan dari akses secara online, transaksi berbasis online hingga diversifikasi investasi ke sektor riil secara langsung.

Adapun yang dimaksud investasi ke sektor riil adalah investasi langsung kepada perusahaan yang bergerak di sektor riil seperti pabrikan, perdagangan, jasa, teknologi dan lainnya. Sehingga, setiap investasi yang dikelola tidak akan terkonsentrasi pada satu jenis produk dan industri tertentu.

Sebelum kita mengenal lebih jauh terkait diversifikasi aset P2P Lending dan nilai lebih yang ditawarkan, berikut beberapa produk investasi lain yang perlu Anda ketahui:

1.Tabungan

Investasi ini merupakan bentuk simpanan sejumlah dana yang Anda lakukan di bank ataupun lembaga keuangan lainnya. Dapat diambil kapan saja dan tidak memiliki risiko yang besar. Tabungan juga akan memberikan sejumlah pendapatan bunga. Bunga yang diberikan bank pertahun sekitar kurang lebih 2,42% per tahun (Riset BEI, 2016). Biasanya orang cenderung mudah mengambil uang di dalam tabungan sehingga jumlahnya akan berkurang.

2. Emas

Sarana investasi yang banyak digunakan masyarakat luas. Bahkan, sejak zaman dulu emas telah dijadikan sebagai salah satu bentuk investasi yang memiliki resiko rendah dan juga tahan terhadap inflasi. Rata-rata return per tahunnya adalah sebesar 7,76% (Riset BEI, 2016). Emas bisa dibeli dalam bentuk batangan, koin, dan perhiasan. Emas merupakan bentuk aset yang mudah dijual jika sewaktu-waktu Anda membutuhkan sejumlah dana dalam keadaan darurat. Kelebihan dari investasi ini adalah kualitas tidak berubah, resiko sangat rendah, tidak menimbulkan biaya tambahan, dan bentuknya dapat diubah.

3. Deposito

Sebagai salah satu produk peyimpanan uang di bank, deposito termasuk investasi dengan resiko rendah, namun setoran maupun penarikannya hanya bisa dilakukan pada waktu tertentu. Kelebihan utama dari memiliki deposito adalah tingkat suku bunga bank yang lebih besar dibandingkan produk tabungan biasa. Saat ini, suku bunga yang ditawarkan yakni berkisar di angka 5-6% per tahun (Riset BEI, 2016), namun suku bunga tersebut belum termasuk potongan pajak sebesar 20%.

Dapat dikatakan deposito merupakan bentuk investasi yang paling aman diantara yang lainnya. Namun, imbal hasil yang diberikan dari deposito tergolong rendah atau paling rendah diantara bentuk investasi lainnya. Belum lagi apabila terjadi lonjakan inflasi, maka hasil deposito bisa menjadi tidak ada artinya.

4.Reksadana

Reksadana sangat cocok untuk investor pemula dengan modal sangat terbatas dan masih awam dalam menghitung resiko investasi. Hal ini terlihat pada jumlah minimum yang ditawarkan yaitu Rp 100.000 untuk setiap pembukaan akun baru. Reksadana menjadi alternatif investasi yang ideal bagi mereka yang memiliki dana terbatas namun tetap dapat melakukan diversifikasi dalam produk investasinya.
Dalam investasi ini, uang Anda akan menjadi bagian dari dana yang dikumpulkan untuk melakukan investasi pada produk tertentu yang dilakukan oleh seorang Manajer Investasi.

Dengan menghitung sentimen dan resiko pasar, serta melakukan strategi investasi untuk menghasilkan keuntungan semaksimal mungkin, Manajer Investasi akan memasukkan dana tersebut ke dalam berbagai produk atau instrumen investasi.

5.Mata Uang Asing

Perdagangan jenis mata uang asing atau yang lebih dikenal dengan sebutan forex (foreign exchange). Jenis investasi ini cukup menantang dan dapat memberikan hasil yang tidak sedikit. Namun, keuntungan yang diperoleh sangat ditentukan oleh besarnya dana yang berani Anda investasikan. Selain itu, kemampuan Anda membaca kondisi pasar terkini merupakan hal penting.

Dibalik keuntungan tinggi yang ditawarkan, forex juga memiliki resiko tinggi. Apabila tidak hati-hati atau melakukan investasi tanpa memahami cara kerjanya, Anda dapat kehilangan aset yang telah ditanam dalam waktu singkat.

6. Properti

Harga properti yaitu rumah dan tanah cenderung akan naik. Diperkirakan kenaikan sebuah properti setiap tahunnya dapat mencapai 20% per tahun. Namun, hal itu juga akan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang mempengaruhinya, seperti letak tanah/properti yang strategis dan nilai inflasi tahun tersebut.

Dengan membeli properti dengan harga rendah di tahun sebelumnya, dan menjualnya di kemudian hari akan mendatangkan keuntungan karena harga jualnya cenderung naik. Namun, pada investasi properti perlu memiliki modal yang cukup besar. Selain itu, kekurangannya adalah properti bukan aset yang liquid karena tidak mudah untuk menjualnya. Sehingga, perlu menjadi pertimbangan bagi Anda yang mengutamakan fleksibilitas dalam pencairan dana.

7. Obligasi

Obligasi adalah surat utang atau bukti utang dari perusahaan atau negara yang dipegang oleh investor. Artinya, kualitas obligasi sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan penerbit obligasi dalam membayar obligasinya pada saat jatuh tempo dan kemampuannya membayar bunga atau kupon selama jangka waktu penerbitan obligasi tersebut.

Obligasi mirip dengan deposito dimana jika Anda memiliki obligasi maka Anda akan mendapatkan bunga. Perbedaannya adalah nilai dasar obligasi dapat naik dan turun selama masa kepemilikan. Sedangkan, dalam deposito uang Anda akan tetap utuh setelah jatuh tempo kecuali melakukan break sebelum jatuh tempo (Filbert, 2017).

Sebagai sebuah produk investasi yang memberikan return yang lumayan yaitu hampir 9% per tahun (Riset BEI, 2016) namun obligasi membutuhkan kocek yang cukup besar. Misalnya, untuk obligasi korporat Anda perlu menyiapkan dana di atas Rp 200.000.000,00. Namun, saat ini, Indonesia memiliki obligasi retail.

Obligasi retail adalah obligasi yang dapat dibeli secara retail atau eceran. Sedangkan, untuk obligasi yang tidak membubuhkan retail dibelakangnya, Anda tidak diperbolehkan membeli secara eceran. Obligasi retail sendiri bisa didapatkan dengan modal dana minimal Rp 5.000.000,00 dan kelipatannya.

Jangka waktu investasi ini terbilang sangat panjang, minimal 5 tahun, sehingga akan menjadi sebuah masalah jika sewaktu-waktu Anda ingin mencairkan dana sebelum jangka waktu yang telah disepakati. Obligasi juga memiliki risiko yang cukup tinggi. Jika sewaktu-waktu perusahaan penerbit obligasi mengalami kebangkrutan atau dilikuidasi, bisa saja dana yang Anda investasikan tersebut tidak dikembalikan.

8. Saham

Investasi saham merupakan invetasi yang sudah berkembang saat ini. karena keuntungan yang di tawarkan sangat menarik. untuk bisa berinvestasi saham tidak perlu menggunakan modal besar karena saat ini dengan modal Rp 500.000,00 Anda sudah bisa berinvetsasi saham.

Kemudahan ini membuat banyak pelaku investasi saham bermunculan karena investasi ini dapat memberikan return sebsar 17%. Dalam investasi saham memerlukan keahlian dan juga analisa yang tinggi, hal tersebut agar bisa mendapatkan profit yang maksimal dan juga bisa untuk meminimalisir tingkat resiko dalam investasi saham.

9. Peer to Peer Lending

Investasi P2P Lending atau yang sering pula disebut pendanaan online, merupakan skema investasi baru di Indonesia. Secara sederhana, pendanaan online merupakan sebuah skema pemberian pinjaman uang kepada peminjam dengan imbalan besaran bunga tertentu, dimana investor atau yang sering disebut sebagai pemberi pinjaman dapat mulai berinvestasi dengan modal yang relatif lebih kecil.

Di Indonesia, P2P Lending sendiri telah diatur dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dimana para pelaku usaha biasanya menawarkan produk mereka untuk kebutuhan pribadi atau kebutuhan modal usaha bagi pelaku UKM di Indonesia. Diversifikasi melalui P2P Lending tidak hanya membuat Anda melakukan penyebaran terhadap portfolio produk investasi, namun dapat lebih jauh.

Pinjaman P2P Lending menawarkan pilihan diversifikasi yang bagus. Dengan instrumen pendapatan tetap, Anda bisa menambahkan investasi yang lebih menguntungkan yaitu meminjamkan dan mendiversifikasi portofolio investasi Anda menciptakan diversifikasi terhadap investasi berisiko kamu seperti ekuitas.

Di P2P Lending, Anda memiliki keleluasaan dalam memilih produk investasi, atau dengan kata lain, bebas memilih siapa yang akan Anda beri pinjaman. Terlebih pinjaman kepada UKM, di sini Anda juga melakukan diversivikasi dalam hal sektor usaha, mulai dari konstruksi, telekomunikasi, e-commerce, serta lainnya.

Sehingga diversifikasi yang Anda lakukan tidak hanya sebatas dalam bentuk investasinya saja, tetapi juga dalam hal produk yang diinvestasikan. Apabila ada satu sektor usaha sedang lesu, maka diharapkan dengan melakukan penyebaran pilihan produk investasi, sektor-sektor usaha lain yang didanai dapat menutup resiko dari kegagalan investasi di pinjaman tersebut.

Tidak hanya itu, dengan menempatkan aset di P2P Lending, Anda telah secara nyata berpartisipasi dalam membantu perkembangan UKM di Tanah Air. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, selain pinjaman personal, cukup banyak penyedia layanan P2P Lending yang fokus dalam pendanaan modal usaha UKM.

Salah satu faktor yang membuat investasi di P2P Lending menarik adalah timbal balik yang kompetitif dengan rentang waktu yang relatif singkat. Rata-rata P2P Lending menawarkan imbal balik sebesar 10-25% efektif per tahun dengan masa tenor pinjaman 1-12 bulan.

Salah satu penyedia layanan P2P Lending terkemuka di Indonesia adalah CROWDO. Pada tanggal 16 Juni lalu, CROWDO yang berada di bawah PT Mediator Komunitas Indonesia, telah terdaftar secara resmi ("S2842/NB.111/2017") sebagai Penyelenggara Layanan Pinjam Meminjam Berbasis Teknologi Informasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Perusahaan yang sudah beroperasi di Indonesia sejak 2016 ini juga baru saja mendapat sertifikat internasional ISO/IEC 27001:2013 dari British Standards Institution (BSI) dalam perihal Manajemen Keamanan Informasi. Untuk informasi lebih jauh tentang CROWDO, Anda dapat menghubungi laman resmi di www.crowdo.co.id.