UKM dan P2P Lending sebagai Solusi Perekonomian Indonesia

Tidak bisa dianggap remeh, keberadaan UKM dalam dinamika perekonomian Indonesia berada dalam posisi yang sangat penting. Jenis usaha ini banyak menyumbang pendapatan negara yang secara otomatis juga berperan dalam memperkuat sistem ekonomi Indonesia. Misalnya pada tahun 2005, peran UKM terhadap penciptaan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 53,54 persen. Selebihnya 46,46 persen disumbang oleh pelaku usaha besar.

Sedangkan, pada tahun 2011 peran UKM terhadap penciptaan PDB nasional adalah sebesar 42,06 persen. Bila dirangkum kontribusi UKM pada tahun 2010–2011 terjadi peningkatan sebesar 6,76 persen dari Rp. 1.282,57 triliun menjadi Rp 1.369,33 triliun.

Jika dilihat dari sisi tenaga kerja, pada tahun 2011 UKM mampu menyerap tenaga kerja sebesar 97,24 persen dari total penyerapan tenaga kerja yang ada. Jumlah ini meningkat sebesar 0,02 persen dari tahun 2010. UKM juga dianggap sangat berpotensi dalam meningkatkan pendapatan negara melalui pajak.

Selain itu, UKM memiliki keunggulan yaitu dapat beroperasi menyebar di seluruh pelosok dengan berbagai ragam bidang usaha, karena kebanyakan UKM muncul untuk memenuhi permintaan yang terjadi di daerah regional. Penyebaran UKM berarti mengurangi urbanisasi dan kesenjangan desa-kota.

Perbedaan UKM yang cukup mencolok dibandingkan usaha-usaha besar adalah dari sisi karakteristiknya. Jika usaha besar cenderung padat modal, keunggulan UKM justru pada sisi padat karyanya. Modal produksi yang digunakan dalam usaha kecil dapat menggerakkan masyarakat semaksimal mungkin. Masyarakat dapat memberikan andil perannya pada setiap tahapan produksi.

Dengan demikian, penggunaan teknologi cenderung tepat guna yaitu sesuai keperluan manusia untuk memudahkan mereka dalam memproduksi barang atau jasa. UKM juga lebih fleksibel melakukan usaha dibandingkan para pelaku usaha besar. Keunggulan-keunggulan semacam itulah yang kemudian menjadi kekuatan. Ini sudah terbukti ketika krisis terjadi pada 1998 atau 2008 silam. Usaha-usaha kecil menengah ini tahan banting dan menjadi penyelamat ekonomi bangsa.

Hingga saat ini, usaha-usaha kecil masih memiliki kekurangan dalam pengelolaannya. Dari sisi internal, kurangnya kualitas SDM, modal kerja, penyediaan bahan baku, kewirausahaan, organisasi, dan manajemen usaha masih dikelola sangat sederhana. Setidaknya ada tiga alasan yang mendasari hal tersebut, yaitu UKM memiliki sumber pertumbuhan yang lebih memenuhi syarat untuk mengejar pertumbuhan dan pemerataan, strategi ini memungkinkan penyebaran industri ke berbagai lokasi, termasuk aset riil dalam sistem ekonomi ke banyak pulau, sehingga kedua faktor tersebut akan menyeimbangkan penyebaran proses industrialisasi.

Membangun (Kembali) dari Dalam

Selama ini, permasalahan akut yang sering melanda pengusaha-pengusaha kecil adalah kurangnya modal yang mereka miliki. Oleh karenanya, kadangkala para pengusaha harus pontang-panting mencari berbagai pinjaman untuk memenuhi kebutuhannya. Di era digital, kehadiran Peer to Peer (P2P) Lending atau yang biasa pula disebut dengan pinjam-meminjam online menjadi salah satu cara untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Sebagai sebuah platform yang dapat mempertemukan antara pemberi pinjaman (Lender) dan peminjam (Borrower) secara online maka permasalahan UKM dapat dibantu oleh dana investasi dari para lender yang juga berdampak besar terhadap pertumbuhan UKM di Indonesia. Sehingga, P2P Lending tidak hanya menjadi solusi alternatif investasi namun juga perekonomian jangka panjang.

Sumber:

[1] www.depkop.go.id

[2] Idem

[3] Lih. Tambunan, Mangara. 2002. Strategi Industrialisasi Berbasis Usaha Kecil Menengah. Bogor: Institut Pertanian Bogor hal. 16.

[4] Widodo, Tri. 2009. Strategi Pengolahan Sumber Modal UKM. Seminar UKM, P3 Ekonomi di Auditorium UM FK-UGM.