Mengenal Bunga Flat dan Efektif dalam Fasilitas Pinjaman

Fasilitas pinjaman atau kredit yang diberikan P2P Lending kepada para investor memiliki cara perhitungan bunga yang berbeda. Umumnya, ada tiga jenis cara perhitungan bunga yang sering diterapkan, yaitu bunga flat, bunga efektif, dan bunga anuitas. Namun, dalam dunia lembaga keuangan tak terkecuali P2P Lending mayoritas menerapkan dua suku bunga flat dan efektif.

Lantas apa perbedaan suku bunga flat dengan suku bunga efektif?

1. Suku Bunga Flat

Suku bunga flat adalah suatu sistem penetapan bunga yang diberlakukan oleh institusi perbankan dan lembaga-lembaga pembiayaan yang dihitung berdasarkan pokok pinjaman awal. Dalam suku bunga jenis ini, porsi bunga angsuran akan tetap sama setiap bulannya.

Contoh: jika Anda meminjam 240 juta rupiah dengan suku bunga flat sebesar 10% dan tenor selama 1 tahun.
Dengan dana pokok sebesar 20 juta setiap bulannya.

Maka, Untuk pembayaran bunga setiap bulannya maka 240 juta x 10%/ 12 bulan = 2.000.000 rupiah. Jumlah bunga yang dibayarkan akan sama sampai akhir periode.

Keuntungan dari suku bunga jenis ini adalah kepastian porsi yang harus dibayarkan setiap bulannya, memberikan kestabilan yang lebih dibanding suku bunga efektif. Selain itu, biasanya biaya penalti yang diberikan relatif lebih kecil. Namun, kelemahan dari suku bunga flat terlihat ketika ada penurunan suku bunga per tahun, karena nasabah tidak akan bisa menikmatinya, sebab suku bunganya sudah ditetapkan di awal.

2. Suku Bunga Efektif

Secara umum bunga efektif tarifnya mengikuti perkembangan bunga yang berlaku di pasar atau sesuai dengan kebijakan dari Bank Indonesia (BI Rate). Sehingga, berkebalikan dari suku bunga flat, dasar penghitungan suku bunga efektif didasarkan pada pokok pinjaman sisa, bukan pokok pinjaman awal. Oleh karenanya, porsi bunga yang harus dibayarkan oleh peminjam akan berbeda setiap bulannya.

Beberapa orang menilai bahwa perhitungan nilai suku bunga tipe ini cenderung lebih sukar, masyarakat awam tidak akan langsung mengerti. Namun, secara garis besar dasar perhitungannya adalah:

SP x i x (30/360)
SP= saldo pokok pinjaman bulan sebelumnya
i = suku bunga per tahun
30 = jumlah hari dalam satu bulan
360 = jumlah hari dalam satu tahun

Misalkan seseorang mengajukan kredit sebesar Rp 240.000.000,00 dengan jangka waktu satu tahun dan bunga sebesar 10% per tahun, dengan pokok sebesar 20 juta rupiah maka perhitungannya akan menjadi seperti:

= Rp 240.000.000,00 x 10% x (30/360)
= Rp 2.000.000,00

Sementara hitungan pada bulan kedua:
= Rp 240.000.000,00 -
Rp 2.000.000,00
= Rp 238.000.000,00
Lalu masukan rumusnya:
= Rp 238.000.000,00 x 10% x (30/360) = Rp 1.983.333

Hitungan pada bulan ketiga:
Rp 238.000.000 - Rp 1.983.333
= Rp 236.016.667 x 10% x (30/360) = Rp 1.966. 805

(dan seterusnya, setiap bulan, sampai masa akhir periode)

Keuntungan suku bunga ini, jika ada penurunan bunga di pasaran, maka nilainya akan menjadi lebih kecil juga. Ditambah lagi, nilai bunga relatif lebih kecil, dikarenakan perhitungan bunga yang didasarkan pada sisa pinjaman pokok. Kelemahannya suku bunga efektif, ketika nilai suku bunga tahun tersebut naik, maka total bunga yang harus dibayarkan bisa mengalami kenaikan pula.

Kesimpulannya, baik pemberi pinjaman atau peminjam perlu memahami perbedaan dan cara perhitungan bunga agar tidak salah dalam melakukan perbandingan. Jangan hanya melihat perbedaan besaran tingkat suku bunga pinjamannya saja namun dengan jenis dan cara perhitungan bunga tersebut.

Baca Juga:

English version