Potensi, Hambatan dan Solusi Investasi di Era Digital

Apa perbedaan masalah orang tua dalam mendidik anak di rumah pada tahun 1970 dan 2017? Jawaban: pada tahun 1970, anak-anak terlalu banyak bermain dan beraktivitas fisik di luar rumah dan sulit disuruh pulang, sementara pada tahun 2017, anak-anak terlalu banyak bermain dan beraktivitas digital di dalam rumah dan sulit diajak keluar rumah. Tentu saja jawaban tersebut adalah jawaban humoris. Kendati begitu, ada fenomena menarik yang tersembul dari situasi tersebut: era digital telah mengubah perilaku dan gaya hidup banyak orang.

Terkait dengan fenomena tersebut, baru-baru ini Presiden Joko Widodo (yang terkenal dengan panggilan akrabnya Pak Jokowi), berdialog dengan seorang anak SD dan menanyakan kepada si anak tentang cita-citanya. Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada anak-anak pada tahun 1970-an, jawaban yang populer saat itu adalah: Insinyur, Dokter, Pilot, dll. Jawaban si anak yang diwawancara Pak Jokowi jauh berbeda dan membuat Pak Jokowi serta para hadirin terkesima. Ia ingin menjadi seorang YouTuber, sebuah profesi yang tidak ada dan tidak pernah terbayang pada tahun 1970-an.

Perubahan perilaku, gaya hidup, dan aspirasi ini tidak terlepas dari tren perubahan yang melanda dunia. Tren perubahan besar ini muncul akibat perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi dalam 25 tahun terakhir. Akibat perkembangan pesat di bidang ini, biaya interaksi antar manusia menjadi jauh lebih mudah, cepat, dan mudah. Menurut perusahaan konsultan terkemuka, McKinsey & Co, biaya interaksi merupakan satu dari dua biaya yang dominan dalam bisnis. Pemenang Nobel Ekonomi 2009 -Oliver Williamson- lebih menyukai istilah biaya transaksi, untuk biaya interaksi dalam dunia bisnis dan ekonomi.

Tren di dunia investasi

Jaman dahulu kala, saat invoasi keuangan masih sangat minim, orang yang memiliki kelebihan uang sulit untuk mencari tempat berinvestasi (harus bertemu secara fisik satu per satu dengan banyak orang untuk menawarkan dananya), sementara orang yang membutuhkan uang sulit mendapatkan sumber dana untuk mengembangkan bisnis (harus juga mencari informasi dengan bertemu secara fisik satu per satu dengan banyak orang untuk menawarkan proposal bisnisnya). Akibatnya, orang-orang terpaksa menyimpan sumberdaya investasinya dalam bentuk aset fisik yang disimpan di rumah sendiri atau secara harafiah disimpan di bawah kasur. Inovasi awal untuk mengatasi masalah itu adalah mekanisme perbankan. Orang-orang yang kelebihan uang cukup datang ke satu tempat -yaitu bank- untuk menempatkan dananya, sementara orang yang butuh uang juga cukup datang ke satu tempat -yaitu bank- untuk mendapatkan pinjaman.

Rantai proses bisnis tersebut masih relatif sarat biaya interaksi dan kurang transparansi informasi. Saat biaya interaksi masih relatif tinggi, dunia bisnis terpaksa menggunakan rantai proses bisnis yang relatif panjang tersebut karena membutuhkan banyak orang atau aktivitas fisik dan manual penyambung (intermediary) di tengah-tengah yang menjembatani pemasok barang / jasa / uang dan pengguna akhirnya. Akibatnya, selisih imbal hasil atau bunga yang diperoleh investor berbeda cukup besar dengan bunga yang dibayar oleh peminjam. Selisih besar ini (berarti secara makro biaya transaksi masih tinggi) mengurangi minat orang untuk bertransaksi.

Dengan semakin murahnya biaya interaksi akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, peranan bank mulai digantikan dengan institusi yang lebih langsung mempertemukan investor dan peminjam, yaitu institusi pasar modal. Melalui pasar modal, selisih antara imbal hasil yang diterima oleh investor dan bunga yang dibayar peminjam semakin efisien (kecil). Pada awal perkembangan pasar modal, pelaku pasar masih harus bertemu secara fisik di tempat pasar modal yang berwujud lokasi fisik (trading pit dengan sistem open out-cry).

Dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, melalui teknologi digital, pertemuan pelaku pasar secara fisik tidak lagi dibutuhkan. Mereka bisa bertemu secara virtual dengan diotomatisasi lewat server komputer.
Berlanjutnya penurunan biaya interaksi membuat proses mempertemukan secara virtual pihak yang kelebihan uang tapi kekurangan gagasan bisnis dan pihak yang kekurangan uang tapi kelebihan gagasan bisnis semakin mudah, cepat, dan murah. Alhasil, mekanisme ‘pasar modal’ yang lebih otomatis dan personal pun semakin feasible dan mulai booming.

Bisnis yang terbentuk lewat mekanisme tersebut misalnya crowd funding melalui platform internet yang terbuka dan/atau peer-to-peer lending, mekanisme pembayaran alternatif, dan juga alat pembayaran (mata uang) alternatif (misalnya cryptocurrency yang berciri lintas negara dan tidak berada di bawah kendali pemerintah negara manapun). Bisnis baru tersebut sering secara luas dikategorikan sebagai industri Financial Technology (Fin-tech).

Di Indonesia, telah mulai banyak bermunculan institusi yang menawarkan jasa dan instrumen fin-tech ini, misalnya Crowdo. Industri fin-tech di Indonesia masih dalam tahap embrio namun memiliki potensi besar untuk berkembang sejalan dengan penetrasi penggunaan komputer, internet, dan smart phone yang sudah relatif mencapai tipping point atau critical mass untuk mendukung lompatan kuantum fin-tech. Jumlah pengguna internet yang telah melampaui batas psikologis 100 juta, jumlah pengguna ponsel yang telah melebihi jumlah penduduk (penetrasi lebih dari 100%, karena ada banyak orang yang berlangganan lebih dari satu kartu ponsel), dan jumlah pengguna media sosial yang meningkat pesat (Indonesia menduduki peringkat top 3-5 dunia untuk pengguna berbagai jenis media sosial) membuat industri fin-tech di Indonesia sudah siap meroket. Jika hal ini terealiasi, akan tersedia lebih banyak pilihan instrumen investasi yang memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dengan risiko yang terkendali, serta bisa dinikmati hasilnya secara meluas oleh masyarakat pada umumnya.

Hambatan yang timbul adalah perubahan kebiasaan atau perilaku investasi manusia jauh lebih lambat dibandingkan perkembang teknologi dan inovasi keuangan. Saat ini, total investor di pasar modal baik di Indonesia yang berinvestasi secara langsung maupun melalui instrumen seperti reksadana, masih kurang dari satu persen total penduduk Indonesia. Dibutuhkan sosialisasi dan edukasi yang intensif dan meluas untuk memasyarakatkan mekanisme dan instrumen investasi pasar modal maupun investasi baru berbasis fin-tech / teknologi digital. Keamanan dalam bertransaksi keuangan lewat dunia maya juga masih menjadi kendala. Selain itu, peraturan untuk proteksi masyarakat terhadap potensi penyalah-gunaan dan penipuan berkedok jasa fin-tech juga masih minim.

Hambatan-hambatan tersebut pasti bisa teratasi kalau kita semua kompak untuk bekerjasama mencari solusi, dan bekerja keras, bekerja cerdas, dan bekerja sepenuh hati untuk mengimplementasikan perbaikan berkelanjutan. Bersama, kita bisa!

Author:
Roy Sembel
LinkedIn / Facebook: Prof. Roy Sembel ; Twitter / Instagram: @ProfRoySembel
Dean and Finance Professor, IPMI International Business School (http://www.ipmi.ac.id)